Ada seseorang yang pernah mengatakan kepadaku.
Kata 'seandainya' adalah sesuatu yang tidak seharusnya terucap.
Orang itu bilang, kata 'seandainya' membuat kita menyesali hal yang kita pilih dan membuat kita tidak pernah berhenti berandai-andai.
Saat itu aku menyetujuinya.
Sejak hari itu aku mempraktikannya dalam keseharianku.
Ia seperti bintang terang yang menggantikan pelangi di langit senja yang selalu aku rindukan.
Aku tidak lagi menyesali setiap keputusan yang aku buat.
Aku menghentikan kata 'seandainya' yang terkadang masih terlintas di benakku.
Tanpa sadar ia mengubahku menjadi manusia dengan pemikiran lebih positif dan realistis.
Lalu ketika dia tiba-tiba memutuskan tidak lagi menghubungiku.
Aku tetap berusaha dengan pemikiran positif itu.
Selama berbulan-bulan, aku berusaha tetap realistis dan menunggu.
Orang itu pasti kembali dengan senyum ramah dan pemikiran sehatnya.
Hingga suatu hari, aku tahu penyebabnya tidak lagi berbicara denganku.
Ada alasan realistis yang harus aku terima dengan lapang.
Alasan realistis yang sangat bagus dan membuatku lagi-lagi selalu memakluminya.
Namun, aku tetap bertanya-tanya selama menulis ini.
Boleh kah kali ini saja aku mengeluarkan kata 'seandainya'
Ia benar-benar membuatku ingin melakukannya.
Seandainya aku tidak pernah mengenalnya. Seandainya aku tidak pernah dekat dengannya. Akan kah aku berhenti berandai-andai?
Atau ....
Seandainya aku sedikit lebih cepat dekat dengannya. Seandainya aku tidak pernah ragu dan menahan perasaanku padanya. Adakah kesempatan untukku memilikinya?
Aku tidak akan pernah tahu. Karena lagi-lagi setelah sekian lama, aku hanya berandai-andai.